Posted by: MSirod | 19 March 2005

Impian Seorang Gadis Kecil

Sebuah janji biasanya membutuhkan waktu yang lama untuk ditepati.
Demikian pula halnya dengan impian.

Pada awal tahun 1950-an di sebuah kota kecil di California Selatan,
seorang gadis kecil membawa setumpuk buku ke sebuah counter perpustakaan
yang kecil.

Gadis itu adalah seorang pembaca. Kedua orang tuanya mempunyai begitu
banyak buku dirumah mereka, tetapi tidak selalu merupakan buku-buku yang
dia inginkan. Jadi setiap minggu dia pergi ke gedung perpustakaan yang
ber cat kuning dan coklat di pinggirnya, sebuah bangunan kecil dengan
satu ruangan dimana perpustakaan anak-anak sebenarnya hanya merupakan
satu sudut. Setiap kali, dia keluar dari ruangan itu untuk mencari
bacaan yang sulit.

Sewaktu petugas perpustakaan yang sudah beruban itu menuliskan tanggal
kembali buku-buku yang dipinjam, gadis kecil itu melihat dengan
keinginan yang sangat besar pada “The New Book” yang dengan jelas
dipajang di counter itu. Sekali lagi dia mengagumi kehebatan penulis
yang menulis sebuah buku dan memperoleh penghargaan seperti itu, dan
menjadi terkenal.

Pada hari itu, dia mengatakan apa yang menjadi cita-citanya. “Bila saya
sudah dewasa,” katanya, “saya akan menjadi penulis. Saya akan menulis
banyak buku.”

Petugas perpustakaan itu berhenti menulis dan mendongak lalu tersenyum,
tidak dengan sikap merendahkan yang begitu banyak diterima oleh
anak-anak, tetapi dengan dorongan semangat.

“Bila kau sudah menulis buku itu,” begitu katanya, “bawalah ke
perpustakaan kami dan kami akan memajangnya tepat disini, di counter
ini.”

Gadis kecil itu berjanji bahwa dia akan melakukannya.

Seiring dengan pertumbuhannya, impiannyapun terus berkembang. Dia
memperoleh pekerjaan pertamanya ketika dia duduk di kelas sembilan,
yakni menulis profil kepribadian secara singkat, yang memberikan honor
sebesar $1.50 untuk tiap tulisan dari sebuah koran lokal. Uang itu tidak
ada artinya dibanding dengan keajaiban melihat tulisan-tulisannya di
surat kabar.

Menulis sebuah buku rasanya masih sangat jauh.
Dia menjadi editor pada koran sekolahnya, menikah dan memulai membangun
keluarga, tetapi keinginan untuk menulis tetap berkobar-kobar dalam
hatinya. Dia memperoleh pekerjaan meliput berita-berita sekolah di
sebuah surat kabar mingguan. Hal itu membuat pikirannya tetap aktif,
sementara dia mengurus anak-anaknya.

Tetapi belum juga ada buku yang ditulisnya.
Dia bekerja secara penuh di sebuah harian yang besar. Bahkan mencoba
menulis di berbagai majalah.

Tetap belum ada buku.
Akhirnya, dia yakin bahwa dia harus mempunyai sesuatu yang harus
dikatakan dan mulai menulis sebuah buku. Dia mengirimkannya ke dua
penerbit dan ditolak. Dia menyimpan keduanya dengan sedih. Beberapa
tahun kemudian, impian lama itu semakin membara. Dia memperoleh sebuah
agen dan menulis sebuah buku lagi. Dia mengeluarkan buku yang satunya
lagi dari penyimpanannya, dan segera keduanya terjual.

Tetapi dunia penerbitan buku bergerak lebih lambat daripada dunia
persuratkabaran, dan dia menunggu selama dua tahun. Pada suatu hari
sebuah kotak tiba di depan pintunya. Kotak itu berisi edisi gratis untuk
pengarangnya. Diapun segera membukanya. Lalu dia menangis. Dia telah
menunggu begitu lama untuk merengkuh impiannya dalam kedua tangannya.

Lalu dia teringat undangan petugas perpustakaan itu, dan juga janjinya.

Tentu saja, petugas perpustakaan itu telah meninggal bertahun-tahun yang
lalu, dan perpustakaan kecil itu telah diratakan dengan tanah untuk
membangun gedung perpustakaan yang lebih besar.

Wanita itu menelepon dan memperoleh nama kepala perpustakaan. Dia
menulis surat kepadanya, mengatakan betapa besar arti kata-kata
pendahulunya dulu bagi gadis kecil itu. Dia akan berada di kota untuk
menghadiri reuni sekolah menengahnya yang ke-30, begitu dia menulis dan
bisakah dia membawa kedua bukunya dan memberikannya kepada perpustakaan
? Itu akan sangat besar artinya bagi gadis kecil berumur 10 tahun itu,
dan nampaknya merupakan cara untuk menghormati semua petugas
perpustakaan yang pernah memberikan dorongan kepada seorang anak.

Petugas perpustakaan itu menelepon dan berkata,”Datanglah.” Maka diapun
datang, membawa satu kopi untuk masing-masing buku.

Dia mendapati perpustakaan baru yang besar tepat di seberang jalan dari
sekolah menengahnya dulu ; persis di depan ruangan dimana dia berusaha
mati-matian untuk memahami aljabar, memikirkan dengan sedih akan sebuah
mata pelajaran yang tidak akan pernah dipakai oleh para penulis, dan
hampir persis di atas rumahnya dulu, dibangun sebuah gedung untuk pusat
kegiatan masyarakat dan perpustakaan yang ada sekarang ini.

Di dalam, petugas perpustakaan menyambutnya dengan hangat. Dia
memperkenalkan seorang reporter dari sebuah harian lokal sebuah surat
kabar yang pernah dia minta untuk memberinya kesempatan menulis bertahun
– tahun yang lalu.

Lalu dia memberikan bukunya kepada petugas perpustakaan itu, yang
memajangnya di counter dengan sebuah tanda penjelasan. Air mata mengalir
di pipi perempuan itu.

Kemudian dia memeluk petugas perpustakaan itu dan pulang, berhenti
sebentar di luar untuk mengambil foto, yang membuktikan bahwa
impian-impian bisa menjadi kenyataan dan janji-janji bisa ditepati.
Meskipun itu membutuhkan waktu 38 tahunn.

Dalam benaknya dia melihat seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun dan
seorang wanita dewasa yang sudahh menjadi penulis berpose di dekat papan
nama perpustakaan itu, tepat disamping papan pengumuman untuk pembaca
yang berbunyi :

SELAMAT DATANG KEMBALI
JANN MITCHELL

Sumber: Disadur dari Chicken Soup for the Soul, terbitan Gramedia, 1997

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: