Posted by: MSirod | 24 November 2006

Loyalitas dalam bekerja

1
Seorang pimpinan perusahaan berpidato pada suatu perayaan, “Atas loyalitas
yang ditunjukkan oleh pak Budi selama 25 tahun ini, perusahaan berkenan
menganugerahkan penghargaan tanda jasa pengabdian berupa .. bla-bla-bla.”
Kemudian beliau menyematkan sebuah pin dan menyerahkan sejumlah hadiah
pada pak Budi yang tentu menerimanya dengan penuh suka cita. Para
penonton
bertepuk tangan. Sebagian berdecak kagum, “Pak Budi betul-betul loyal.
Bayangkan, 25 tahun! Berarti ia telah menghabiskan hampir separuh hidupnya
dengan bekerja di perusahaan ini.” Sebagian lain, menghitung-hitung berapa
lama waktu yang diperlukan agar seperti pak Budi, 20 tahun? 10 tahun? 5
tahun atau mungkin tahun depan? Barangkali, ada sebagian kecil yang
mencibir, “Ah tak rela aku bekerja di sini sampai sekian lama.”

Memang, tak sedikit perusahaan menganggap bahwa loyalitas adalah hal kedua
yang diharapkan dari seorang karyawan setelah profesionalisme. Dan, biasanya
kita menggunakan lama masa kerja untuk mengukur loyalitas seorang karyawan.
Semakin lama masa kerja maka semakin loyallah karyawan tersebut pada
perusahaan. Begitu pentingnya loyalitas sehingga banyak perusahaan merasa
perlu menyusun berbagai kebijakan “rewarding” dengan memasukkan faktor ini.
Misal, penganugerahan penghargaan pada karyawan yang telah bekerja sekian
tahun. Atau, pemberian pinjaman lunak hanya bagi karyawan yang telah
melewati masa kerja sekian lama. Tujuannya, untuk menjaga karyawan-karyawan
terbaik mereka tetap bekerja dan menunjukkan loyalitasnya pada perusahaan.

Mengapa menggunakan ukuran waktu? Pertama, karena mudah. Kedua, loyalitas
hanya tumbuh bersama kebersamaan. Dan kebersamaan itu memerlukan waktu.
Loyalitas adalah kesetiaan. Dan kesetiaan adalah kualitas yang menyebabkan
kita tidak menggemingkan dukungan dan pembelaan kita pada sesuatu.
Loyalitaslah yang menyebabkan kita tetap membela seorang sahabat meski ia
harus terancam masuk penjara. Loyalitaslah yang membuat kita
bernyanyi-nyanyi penuh semangat memberikan dukungan pada kesebelasan
kesayangan, meski mereka sedang tertinggal beberapa goal dari tim lawan.
Memang, loyalitas lebih banyak bersifat emosional. Loyalitas adalah kualitas
perasaan, dan perasaan tak selalu membutuhkan penjelasan rasional.
Hampir-hampir saja, loyalitas tak ubahnya dukungan buta, bahkan semacam
sumpah setia. Di beberapa institusi tertentu, seperti negara, militer dan
partai politik, loyalitas adalah hal terutama dan pertama yang dituntut.
Itulah mengapa, seseorang harus bersedia membaca sumpah setia
lantang-lantang sebelum mereka bergabung ke sana.

2
Mengapa loyalitas? Mengapa loyalitas menjadi salah satu kualitas penentu
hubungan antara perusahaan dengan karyawan? Meski hampir tak ada perusahaan
atau pimpinan yang berterus-terang meminta loyalitas dari karyawannya, namun
diam-diam banyak dari mereka yang mengharapkannya. Dengan mendapatkan
loyalitas dari karyawannya, sebuah perusahaan merasa benar-benar “memiliki”
karyawan yang siap bertempur demi kepentingan usahanya, atau seorang
pimpinan tak ragu lagi perintahnya tak terlaksanakan. Demikian pula, bila
seorang karyawan yakin telah memberikan loyalitasnya, ia tak perlu khawatir
kehilangan pekerjaannya; lebih dari itu kebutuhan-kebutuhannya akan mudah
terpenuhi.

Meski demikian, tak sedikit orang meragukan kekuatan loyalitas. Beberapa
pakar manajemen sumber daya manusia malah skeptis untuk memasukkan
loyalitas sebagai bagian dari pekerjaan mereka. Kata mereka,
“Loyalitas sudah mati.” Atau, yang lebih halus mengatakan, “Loyalitas
telah menyusut”. Terlepas dari
apa pun alasan mereka, hubungan kerja adalah hubungan rasional. Pertimbangan
masak-masak, perhitungan untung rugi, pemikiran rasional mengenai kebutuhan
dan imbalan adalah hal yang mendasari hubungan kerja, ketimbang spontanitas
emosional belaka. Hubungan kerja bukanlah hubungan antara sebuah klub sepak
bola dengan fansnya. Seseorang yang telah bekerja 25 tahun mungkin dianggap
loyal, namun mungkin itu tak lebih berarti dibanding seseorang yang baru
masuk kerja namun menunjukkan pretasi yang mengagumkan. Sebaliknya,
seseorang yang keluar dari pekerjaan yang telah digelutinya selama 25 tahun
tidak harus dikatakan tidak loyal hanya karena tertarik pada tawaran yang
lebih menggiurkan dari perusahaan lain.

Sebenarnya, tidak terlalu sulit untuk mengiyakan keraguan atas loyalitas
dalam hubungan kerja. Namun, seringkali banyak perusahaan dan karyawan
menyalahgunakan kata “loyalitas” untuk membenarkan tindakannya. Perusahaan
bilang bahwa mereka menghargai loyalitas, padahal yang dimaksudkan adalah
perilaku “yes man”, taat, tidak membantah, dan bersedia melakukan apa saja
tanpa banyak tuntutan. Sebaliknya, karyawan membanggakan loyalitas pada
atasannya hanya karena ingin mendapatkan penghasilan yang lebih baik,
padahal bila sebuah tawaran menarik datang, tanpa banyak ragu ia akan
menanggalkan semua “loyalitas”nya dan berpindah ke lain perusahaan. Terlebih
lagi, ada kecenderungan untuk menyederhanakan loyalitas sama dengan lama
masa kerja. Sehingga, hak atas imbalan yang lebih baik dituntut oleh
karyawan yang telah lebih lama bekerja, bukan oleh yang lebih berprestasi.
Sedangkan bagi perusahaan, karyawan yang tak banyak mulut dan patuh, berhak
mendapatkan imbalan terbaik daripada mereka yang suka mengajukan pemikiran
alternatif dan kritis. Jadi, pantas bila loyalitas semakin hari semakin
dipandang sebelah mata.

3
Kita bisa memberikan kesetiaan atau loyalitas kita pada siapa saja dan apa
saja. Karena kita memiliki kebutuhan untuk mendarmabaktikan diri kita pada
sesuatu. Adalah dorongan manusiawi kita untuk setia. Kesetiaan itu sesuatu
yang indah. Seorang suami tak pernah merasa lelah bekerja keras atas nama
kesetiaan pada keluarganya. Seorang istri rela hidup sulit menjanda untuk
kesetiaan pada almarhum suaminya. Kesetiaan adalah keteguhan, kekokohan,
ketegasan, kekuatan. Pada tataran yang lebih abstrak, kesetiaan merupakan
perwujudan dari kerendahan diri, penghormatan, bahkan penyembahan. Kita
mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan karena kesetiaan kita pada
sesuatu. Tanpa kesetiaan, kita seolah hidup sendiri, kesepian, dan merasa
tak bermanfaat. Dan, pada hakikatnya kesetiaan terlahir dari rasa cinta.

Sebuah pepatah mengatakan, “Dengan uang kita bisa membeli anjing yang bagus,
tetapi belum tentu bisa mendapatkan goyangan ekornya.” Bukankah goyangan
ekor pertanda kesetiaan seekor anjing pada majikannya? Seseorang boleh saja
setiap hari mentraktir temannya agar mau mengikuti kemana ia pergi, namun
itu belum cukup untuk suatu kesetiaan. Dalam kesetiaan selalu ada
persahabatan. Seorang majikan bisa saja mengeluarkan banyak uang untuk
membayar karyawannya agar bekerja tanpa banyak cincong namun belum tentu
bisa mendapatkan kesetiaannya. Karena kepatuhan melaksanakan pekerjaan bukan
berarti kesetiaan yang muncul dari dalam hati, dari rasa cinta. Kesetiaan
senantiasa memberikan kesediaan untuk memperjuangkan sesuatu. Kesetiaan
adalah pembelaan. Maka tak heran bila beberapa orang berpendapat terlalu
naif untuk mengharapkan kesetiaan dari karyawan bila hanya mempertimbangkan
imbalan belaka. Karena yang didapat mungkin hanya kesetiaan semu, atau malah
cuma kemunafikan belaka.

4
Kesepakatan terwujud bila kita mampu memenangkan pikiran orang lain
(“winning the mind”). Sedangkan rasa cinta yang membuahkan loyalitas, dapat
muncul bila kita mampu memenangkan hati orang lain (“winning the heart”).
Pertimbangan ekonomis tidak harus menjadi satu-satunya hal dalam suatu
hubungan kerja. Masih banyak karyawan bahkan kita sendiri yang menunjukkan
loyalitas tinggi pada perusahaan atau atasan. Itu karena hati kita telah
dimenangkan. Dan memenangkan hati adalah memenangkan nilai-nilai,
prinsip-prinsip, tujuan-tujuan dan harapan-harapan. Secara lahir kita tampak
loyal pada perusahaan, atasan atau rekan-rekan sekerja, namun pada intinya,
kita loyal pada nilai-nilai, prinsip-prinsip, tujuan-tujuan, dan
harapan-harapan.

Karena nilai dan prinsip adalah sesuatu yang takkan pudar begitu saja, maka
kita loyal pada nilai dan prinsip. Kita menjunjung tinggi, membela dan
mempertahankan sebuah nilai dan prinsip, meski situasi tak selalu mudah.
Karena tujuan dan harapan adalah sesuatu yang memberikan makna bagi
perjalanan hidup kita, maka kita loyal pada tujuan dan harapan. Kita
memperjuangkan dan meneguhkan diri untuk sebuah tujuan dan harapan, meski
butuh pengorbanan yang berat. Mungkin ada baiknya mencermati loyalitas yang
selama ini dimaksud dalam hubungan kerja kita. Karena mungkin saja ia
berdiri pada pijakan yang rapuh, seperti mendirikan bangunan di atas tanah
lumpur. Tanpa nilai, prinsip, tujuan dan harapan, loyalitas akan tenggelam
perlahan-lahan tanpa sempat berteriak meminta tolong. Dan barangkali memang
tak perlu bersusah payah mencari loyalitas, karena loyalitas seringkali
datang tanpa diduga dan pergi tanpa permisi. Cukuplah melakukan sesuatu
dengan nilai, prinsip, tujuan dan harapan.

(artikel diadaptasi dari REKAN-KANTOR eNEWSLETTER)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: