Posted by: MSirod | 20 November 2007

Mengubah Pola Pikir

Sekelompok wisatawan tertahan di suatu tempat asing di luar kota . Mereka hanya menemukan bahan makanan yang kedaluwarsa. Karena lapar, mereka terpaksa
menyantapnya, meskipun sebelumnya dicobakan dulu kepada seekor anjing yang ternyata menikmatinya dan tak terlihat efek sampingnya. Keesokan harinya, ketika mendengar anjing itu mati, semua orang menjadi cemas. Banyak yang mulai muntah dan mengeluh badannya panas atau terserang diare. Seorang
dokter dipanggil untuk merawat para penderita keracunan makanan. Kemudian sang dokter mulai mencari sebab-musabab kematian si anjing yang dijadikan hewan percobaan tersebut. Ketika dilacak, eh ternyata anjing itu sudah mati karena terlindas mobil. Apa yang menarik dari cerita di atas ?

Ternyata kita bereaksi menurut apa yang kita pikirkan, bukan berdasarkan kenyataan itu sendiri. We see the world as we are, not as it is. Akar segala sesuatu adalah
cara kita melihat. Cara kita melihat mempengaruhi apa yang kita lakukan, dan apa yang kita lakukan mempengaruhi apa yang kita dapatkan. Ini disebut sebagai model See – Do – Get …Perubahan yang mendasar baru akan terjadi ketika ada perubahan cara melihat ;

Ada cerita menarik mengenai sepasang suami-istri yang telah bercerai. Suatu hari, Astri, nama wanita ini, datang ke kantor Roy, mantan suaminya. Saat itu Roy
sedang melayani seorang pelanggan. Melihat Astri menunggu dengan gelisah, pimpinan kantor menghampirinya dan lalu mengajaknya berbincang-bincang. Si Bos berkata, “Saya begitu senang, suami Anda bekerja untuk saya. Dia seorang yang sangat berarti dalam perusahaan kami, begitu penuh perhatian dan
baik budinya.” Astri terperangah mendengar pujian si bos, tapi ia tak berkomentar apa-apa. Roy ternyata mendengar komentar si bos. Setelah Astri pergi, ia
menjelaskan kepada bosnya, “Kami tak hidup bersama lagi sejak 6 bulan lalu, dan sekarang dia hanya datang menemui saya bila ia membutuhkan tambahan uang untuk putra kami. ” Beberapa minggu kemudian telepon berbunyi untuk Roy.Ia mengangkatnya dan berkata, “Baiklah Ma, kita akan melihat rumah itu
bersama setelah jam kerja.” Setelah itu ia menghampiri bosnya dan berkata, “Astri dan saya telah memutuskan memulai lagi perkawinan kami. Dia mulai melihat saya secara berbeda tak lama setelah Bapak berbicara padanya tempo hari.”Bayangkan, perubahan drastis terjadi semata – mata karena perubahan dalam cara melihat. Awalnya, Astri mungkin melihat suaminya sbg seorang yang menyebalkan, tapi ternyata di mata orang lain Roy sungguh menyenangkan. Astrilah yang mengajak rujuk, dan mereka kembali menikmati rumah tangga yang jauh lebih indah dari sebelumnya. Segala sesuatu yang kita lakukan berakar dari cara kita melihat masalah. Karena itu, bila ingin mengubah kehidupan kita, kita perlu melakukan revolusi cara berpikir.

Stephen Covey pernah mengatakan : “Kalau kita menginginkan perubahan kecil dalam hidup, garaplah perilaku kita, tapi bila Anda menginginkan perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma kita” Covey benar, perubahan tidak selalu dimulai dari cara kita melihat (See). Ia bisa juga dimulai dari
perilaku kita (Do). Namun, efeknya sangat berbeda. Ini contoh sederhana :

Seorang anak bernama Alisa yang berusia empat tahun selalu menolak kalau diberi minyak ikan. Padahal, itu diperlukan untuk meningkatkan perkembangan otak serta daya tahan tubuhnya. Betapapun dibujuk, ia tetap menolak. Dengan maksud baik, kadang-kadang ia dipaksa menelan minyak ikan. Ia menangis dan meronta-ronta. Usaha tersebut memang berhasil memaksanya, tapi ini bukan win-win solution. Si orang tua menang, ia kalah. Ini pendekatan yang dimulai dengan Do.
Maka ditemukanlah cara lain yaitu dengan mengubah paradigma Alisa. Si orang tua tau Alisa sangat suka sirup, karena itu minyak ikan tersebut di aduk dengan air dalam gelas. Ternyata, ia sangat gembira dan menikmati “sirup” minyak ikan itu. Bahkan, sekarang ia tak mau mandi sebelum minum “sirup” tersebut. Contoh sederhana ini menggambarkan proses perubahan yang bersifat inside-out (dari dalam ke luar). Perubahan ini bersifat sukarela dan datang dari Alisa sendiri. Jadi, tidak ada keterpaksaan. Inilah perubahan yang diawali dengan See. Perubahan yang dimulai dengan Do, bersifat sebaliknya, yaitu outside-in. Perubahan seperti ini sering disertai penolakan. Jangankan dengan bawahan, dengan anak kecil seperti Alisa saja, hal ini sudah bermasalah.Pendekatan hukum bersifat outside-in dan dimulai dengan Do. Orang tidak korupsi karena takut akan hukumannya, bukan karena kesadaran. Pada dasarnya orang tersebut belum berubah, karena itu ia masih mencari
celah-celah yang dapat dimanfaatkannya.Pendekatan SDM berusaha mengubah cara berpikir orang. Akar Korupsi sebenarnya adalah pada cara orang melihat. Selama jabatan dilihat sebagai kesempatan menumpuk kekayaan, bukannya sebagai amanah yang harus dipertanggung-jawabkan, selama itu pula korupsi
tak akan pernah hilang. Inilah pendekatan inside-out. Memang jauh lebih sulit, tetapi efek yang dihasilkannya jauh lebih mendasar. Cara kita melihat masalah sesungguhnya adalah masalah itu sendiri. Karena itu, untuk mengubah kehidupan, yg perlu Anda lakukan cuma satu :

” Ubahlah cara Anda melihat masalah “

Mulailah melihat atasan yang otoriter, bawahan yang tak kooperatif, pelanggan yang cerewet dan pasangan yang mau menang sendiri sebagai tantangan dan
rahmat yang terselubung. Orang-orang ini sangat berjasa bagi kita karena dapat membuat kita lebih kompeten, lebih profesional, lebih arif dan lebih sabar.

John Gray, pengarang buku Men Are from Mars and Women Are from Venus, melihat masalah dan kesulitan dengan cara yang berbeda.Ujarnya, ” Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh “

selingan humornya , ….

*DR. Usman CHaniago MSc*

Usman Chaniago, supir camat di Payakumbuh. Suatu Hari dia minta berhenti bekerja pada Bp.Camat. Alasan dia karena akan mencoba mengadu nasib merantau ke Jakarta.

Di Jakarta mula-mula dia bekerja sebagai tukang kantau di Tanah Abang. Dia terbilang amat rajin dan Ulet dalam bekerja.

Setelah terkumpulkan sedikit demi sedikit modal, Dia mencoba untuk usaha sendiri. Dia mulai menggelar dagangan di pinggiran jalan Tanahabang.

Nasib rupanya memihak kepadanya, beberapa tahun kemudian…. Dia berhasil memiliki kios kain di dalam pasar, Merasa sudah semakin berhasil Dia pun ingin berkeluarga. Hampir 3 Tahun sudah dia menikah dan memiliki 2 anak. Tahun ini dia membangun rumah di Depok, di lingkungan perumahan dosen UI.

Di Komplek tersebut Dia cukup terpandang karena rumahnya yang lebih besar serta banyak orang komplek menaruh perhatian pada dirinya, namun….

Ada hal yang membuat-nya agak canggung, karena tetangganya semua akademisi, macam-macam gelarnya, ada Prof., ada PhD.dll. Usman merasa
malu kalau papan namanya tidak tercantum gelar seperti tetangganya.

Oleh sebab itu maka dibuatlah Papan naman dari perak, dipesan dari Kotogadang, dengan nama DR. Usman Chaniago MSc.

Suatu ketika ayahnya datang berkunjung ke rumah-nya. Alangka bangga dia begitu melihat nama anaknya di papan nama depan rumah, kemudian dia bertanya dengan nada gembira dan bangga,(karena setahu dia, Usman hanya tamatan SMP dan setelah itu bekerja jd sopir dan hanya berdagang).

Kata ayah Usman :

Wah…wah.. Aba betul-betul bangga ini Usman, sampai terkejut dimana anak ambo kuliah, nie ??? *

Dengan malu-malu Usman menerangkan gelarnya di papan nama :

Ahh, Aba…!!! DR. Usman Chaniago MSc iko maksudnyo… …

*Disiko Rumahnyo Usman Chaniago Mantan Supir Camat.

SUMBER : Manager-indonesia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: