Posted by: MSirod | 6 October 2008

sharing mudik lebaran 08

Dear Frenz,

Saya berniat untuk sharing pengalaman kami sekeluarga bermudik ria lebaran kemarin, alhamdulillah dapat meluangkan waktu mudik ke purwakarta & padalarang. Cukup dekat sih, tapi cukup berkesan, sehingga saya ingin membaginya ke rekan-rekan…

ceritanya, pas idulfitri hari rabu (sesuai anjuran pemerintah dan ormas islam tentunya.. saya berkunjung ke rumah saudara2 istri istirahat siangnya lalu sore berangkatlah menggunakan angkutan umum dari terminal kampung rambutan. Untungnya mudik pas hari-H adalah, kita gak berjejal-jejal pulang karena hampir sebagian besar pemudik sudah memilih hari sebelumnya. Dari terminal kampung rambutan itu, kami memilih bis yang ada AC-nya dan punya kursi berjejer tiga (eh, bukannya semua bis ke purwakarta memang formatnya seperti ini🙂, bukan apa-apa kursi yg tiga baris itu berguna untuk saya, istri dan anak saya si zuzu yang gak bisa diem, yah.. mendingan bosen ditanyain orang kalo kursinya diitung tiga atau dua daripada harus mangku anak saya dan badan dibuat pegel karena ya itu tadi si zufar gak bisa diem selama perjalanan.

Biasanya bis AC jurusan Purwakarta – Sadang tarifnya cuma 12.000 skarang harganya naik jadi 15.000, kalau ingin langsung ke arah Subang mendekati rumah saya tambah lagi 3000 perak. Tepatnya maghrib saya sudah sampai rumah ibu saya di kecamatan Campaka – purwakarta. Sebelum berangkat sudah melakukan shalat jama ta'hir zuhur & ashar, sesampainya di rumah saya langsung shalat maghrib jama qashar shalat isya, mengambil keringanan (ruqshah) karena status safar saya. Singkatnya perjalanan cuma memakan waktu 2 jam mulai dari rumah.

Di purwakarta kami bersilaturahmi dengan sanak saudara, lebaran ini banyak sekali perubahan. Ma'lumlah tahun ini saya baru saja ditinggal nenek tercinta, tahun kemarin paman sang pengganti ayah, dan 2 tahun kemarinnya kakek & nenek dari bapak. Praktis lebaran tahun ini benar2 sepi, apalagi bibi & paman saya sudah mudik ke yogya dan wanayasa mengikuti keluarga suami & istrinya masing-masing. Hhhhh… cukup lelah, terutama setelah "menjenguk" makam ayah dan nenek yang berdampingan, inginnya dua makam itu saja jangan bertambah lagi di lahan keluarga itu, bukan apa-apa, rasa-rasanya kehilangan beruntun di 3 tahun ini cukup membuat saya sering termenung mengapa cobaan kok datang begitu banyaknya? Innalilaahi wa Inna ilaihi raajiuun… ah saya teringat dengan sebuah ayat dalam Quran bahwa manusia pasti akan dicoba dengan kekurangan dan ketakutan-ketakutan lainnya, dan orang2 yg sabarlah yang senantiasa ingat Tuhannya.

Besoknya saya bersama Ibu, istri, anak, adik dan ipar saya ke Padalarang menuju keluarga Ayah. Perjalanan cukup mengasikkan karena tidak perlu menaiki kendaraan umum lagi. Alhamdulillah kedua Ipar saya diberi rezeki berlebih sehingga mereka duluan punya kendaraan. Perjalanan Campaka – Sadang – Padalarang hanya memakan waktu 45 menit. Sepanjang perjalanan saya tak henti-hentinya mengamati kebesaran Allah pada alam Plered – Panglejar – Sawit – Maswati – Tagog yang berbukit dihiasi bebatuan, kali dan pepohonan rindang. Terutama di daerah panglejar yang ditumbuhi teh milik perkebunan nusantara 8 tempat ayah saya kerja dulu.

Bersambung…

M.Sirod


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: