Posted by: MSirod | 25 June 2009

Kerak Telor, Makanan Khas Betawi atau Sunda?

Kerak Telor, Makanan Khas Betawi atau Sunda?
Salah satu nama pedagang kerak telor yang cukup populer di tempat itu adalah Bakri yang menekuni profesinya sejak sepuluh tahun terakhir. Lelaki asli Betawi kelahiran Buncit, Mampangprapatan ini adalah, satu dari sedikit penjual kerak telor yang memang mewarisi keahlian orangtuanya secara turun temurun.

Kamis, 25 Juni 2009 | 08:44 WIB

KOMPAS.com – Siapa yang tidak kenal dengan kerak telor? Jajanan khas Betawi ini tak hanya digemari warga Jakarta, warga luar Jakarta pun banyak yang menggemari jajanan mirip telor dadar ini.

Rasanya yang lezat tak terlepas dari bahan-bahan yang digunakan, yakni beras ketan putih, telur ayam, udang kering yang digoreng kering hingga seperti abon, serta ditambah bawang merah goreng, lalu diberi bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica butiran, garam dan gula pasir untuk menambah kelezatan rasanya.

Saat ini, jajanan asli Betawi ini semakin sulit ditemui. Pada hari-hari biasa, kerak telor dapat dijumpai di beberapa objek wisata seperti Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan dan Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat. Pada momen tertentu seperti dalam rangka HUT kota Jakarta, kerak telor dapat ditemui di Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Namun timbul pertanyaan, kerak telor ini jajanan asli Betawi atau Sunda? Pasalnya, mayoritas pedagang kerak telor yang ditemui di Pekan Raya Jakarta (kini Jakarta Fair Kemayoran) adalah asal Sunda, Jawa Barat. Karena kerumunan pedagang kerak telor di PRJ menggunakan bahas Sunda saat berbincang dengan teman seprofisinya. “Makanan Betawi kok yang jual orang Sunda,” demikian kata yang keluar dari salah seorang pembeli.

Ironis memang pedagang atau pembuat kerak telor di area Pekan Raya Jakarta didominasi oleh pedagang kerak teror dari luar Jakarta seperti dari Garut dan Bandung. “Dari sekitar 400 pedagang kerak telor di PRJ, hampir keseluruhan orang Sunda mas,” kata Hamid, salah seorang pedagang kerak teror yang berasal dari Cimahi, Bandung.

Pengakuan Hamid sangat mengejutkan. Sebab, sebagai makanan kas Betawi, penjual kerak telor di PRJ mayoritas berasal dari Sunda, Jawa Barat. Sedangkan yang berasal dari Betawi asli hanya berjumlah puluhan. Fenomena ini membuktikan, penjual kerak telor asal Betawi semakin desikit karena tidak ada anak cucu yang meneruskan usaha turun temurun ini atau karena tergusur oleh makanan modern dari luar seperti fast food dan sebagainya.

Keraguan tersebut makin terbukti dengan penjelasan Asep Ruslan (26), salah seorang pedagang kerak telor yang berasal dari Garut. Asep mengaku setiap tahun ketika PRJ dibuka, sekitar 800 orang pedagang kerak telor yang diorganisir diberangkatkan dari Bandung. Pedagang tersebut siap meramaikan acara puncak HUT Jakarta.

Menurut Asep, kerak telor juga banyak dijumpai di beberawa wilayah Bandung dan Garut. Di Bandung kerak telor menjadi menu makanan tetap di kawasan Gasibu, Gedung Sate, Bandung. Sedangkan di Garut, makanan kas Betawi ini selalu menghiasi tongkrongan anak muda di Kerkop, Guntur, Garut, Jawa Barat. Lantas bagaimana dengan di Jakarta?

Di Jakarta sendiri kerak telor menjadi makanan yang langka. Memang begitu sulit untuk mencarinya. Hanya di beberapa tempat saja para pedagang yang menjualnya, dan itupun hanya beberapa bedagang dengan jumlah yang relatif kecil. Seperti kerak telor yang ada di Setu Babakan. Di sini hanya puluhan pedagang yang menjualnya.

Selain di Setu babakan, Jakarta Selatan, kerak telor juga dijual di area Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, Jakarta Pusat. Itupun hanya setahun sekali, bahkan mayoritas penjualnya bukan berasal dari masyarakat asli betawi atau Jakarta. Di daerah lainnya, keberadaan kerak telor cukup langka.

Kondisi ini memang begitu memprihatinkan. Sebagai makanan khas Betawi, ternyata hanya segelintir warga Betawi yang mempopulerkan jajanan ini. Tak sebatas itu, pemuda Betawi pun merasa enggan meneruskan usaha turun temurun ini. Terbukti dari mayoritas pedagang kerak telor yang berasal dari Sunda mendapat warisan dari warga betawi asli.

Seperti diutarakan Hamid (39), salah satu pedagang kerak telor asal Cimahi, Bandung. Dirinya mengaku belajar membuat kerak teror dari masyarakat Betawi yang bermukim di Warung Buncit, Jakarta Selatan. Alasan Hamid mau belajar begitu simpel. Lantaran tak ada keturunan si `Guru` yang mau belajar, maka dirinya yang menggantikan posisi anak-anak sang guru, tentu saja dengan didasari keinginannya untuk berusaha.

Dari sinilah kita mulai mengkwatirkan keberadaan jajanan kerak telor yang secara turun temurun akan berpindah tempat peradapannya. Dan bukan tidak mungkin kerak telor yang dulunya menjadi makanan kas Betawi akan beralih menjadi makanan kas masyarakat Jawa Barat. Karena ini, jajanan khas Betawi nan langka ini patut dilestarikan!

Advertisements

Responses

  1. kami anak jakarta suka kraktelor

  2. kami cinta jakarta mengapa jakrta di kotori
    ilov jakarta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: