Posted by: MSirod | 14 August 2009

Mampukah Kita mencintai Istri tanpa syarat?

Ini cerita nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset
Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment,
beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di
Indonesia.

Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.

Silahkan baca dan dihayati..

*MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT* – – – sebuah perenungan

Buat para suami baca ya … istri & calon istri juga boleh..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja
bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi
dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.. mereka
menikah sudah lebih 32 tahun.

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah
istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa
digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh
tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah
tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi,
dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja
dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa
kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya
tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari
rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan
siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan
selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil
menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak
Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap
berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan
sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah
hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg
masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua
mereka sambil menjenguk Ibunya. Karena setelah anak mereka menikah
sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan Ibu
mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu … semua anaknya
berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata "Pak kami ingin
sekali merawat Ibu semenjak kami kecil melihat Bapak merawat Ibu tidak
ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak. … bahkan Bapak tidak
ijinkan kami menjaga Ibu". dengan air mata berlinang anak itu
melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan Bapak
menikah lagi, kami rasa Ibupun akan mengijinkannya, kapan Bapak
menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak
tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baik
secara bergantian …"

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2
mereka."Anak2ku … Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk
nafsu, mungkin Bapak akan menikah … tapi ketahuilah dengan adanya Ibu
kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan
kalian …. sejenak kerongkongannya tersekat … kalian yg selalu
kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat
menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya Ibumu apakah dia
menginginkan keadaannya seperti ini?

Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia
meninggalkan Ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan
Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain,
bagaimana dengan Ibumu yg masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno merekapun melihat butiran2
kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno … dengan pilu ditatapnya mata
suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno
diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber
dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu
bertahan selama 25 tahun merawat sendiri Istrinya yg sudah tidak bisa
apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di
studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru
disitulah Pak Suyatno bercerita.

"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam
perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga,
pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya
menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan
sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan
dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2 …

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama … dan itu
merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk
mencintainya apa adanya. Sehat pun belum tentu saya mencari
penggantinya apalagi dia sakit…"


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: