Posted by: MSirod | 31 December 2010

Berkompromi dengan Kolonialisme demi kemajuan Budaya Sunda

Adalah Moehamad Moesa dari daerah Garut seorang hoofpanghulu. Epitaf pada nisan Moesa di belakang Masjid Agung Garut berbunyi, R. H. Mhd. Moesa lahir pada 1822 dan wafat pada 10 Agustus 1886. Ia adalah seorang menak, putra dari seorang patih, pangkat kedua tertinggi di

Kabupaten Limbangan. Beliau ini adalah tokoh utama dibalik bentuk baru lahirnya tulisan sunda. Seorang tokoh yang melakukan lompatan

besar untuk kemajuan budaya sunda.

Moesa mendampingi Karel Frederik Holle, sahabatnya yang orang Belanda, menerbitkan buku-buku berbahasa Sunda. Kolaborasi keduanya menghasilkan buku-buku bermutu (untuk ukuran saat itu). Sebua sinergi dari seorang kumpeni yang mengapresiasi budaya bangsa lain (sunda/Indonesia) dan seorang penduduk lokal yang memiliki wawasan global dan mengerti bahwa kemajuan suatu bangsa atau kelompok masyarakat sangat tergantung dari cara mereka mengakses kalam/tulisan (baca: gemar membaca).

Membaca adalah perkara interaksi antara pembaca dan bahan bacaan. Adalah kemustahilan, jika si pembaca tercerahkan jika tidak ada bacaan pencerahan.

Saat itu Limbangan berada dalam wilayah administrasi kolonial yang paling maju dan makmur di Jawa. Jabatan penghulu yang disematkan kepada Moesa adalah salah satu pangkat tertinggi untuk masyarakat Bumiputera, hampir setara dengan regent atau bupati, patih, jaksa dan wedana.

Dalam komunitas masyarakat tradisional, panghulu memainkan peran penting. Namun, ketika penghulu diintegrasikan ke dalam sistem administrasi bentukan Belanda, peran agama dan politik mereka dibatasi. Pemerintah kolonial memanfaatkan peran tradisional penghulu untuk memelihara orde kolonial jika mereka setuju untuk bekerjasama dengan Belanda. Moesa menerima gaji sebsar 900 gulden per tahun ditambah uang kompensasi sebesar 720 gulden sebagai tobang pelayanan buruh. Jumlah itu lumayan besar, karena gaji seorang bupati, kedudukan tertinggi yang dijabat kaum Bumiputera pada periode yang sama, hanya menerima gaji sebesar 1200 gulden. Sedangkan seorang patih hanya menerima gaji sebesar 225-300 gulden. Jadi, hoofdpanghulu limbangan adalah orang yang berkuasa dan kaya pada masa itu.

Moesa memiliki enam orang istri yang memberinya 17 anak dan 66 cucu. Sebuah angka yang fantastic jika ditarik ke jaman sekarang. Seorang kyai yang menikah lagi akan dicibir dan dijauhi. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa majunya budaya sunda, yang dihembuskan Musa lewat karya-karyanya seperti yang terkenal “Wawacan Panji Wulung” adalah karena ia memiliki kekuasaan, kekayaan dan anggota keluarga yang banyak. Siapa bilang poligami itu menghambat kemajuan?🙂

Dalam hal pendidikan, Moesa tampaknya lebih sadar tentang manfaat dan arti penting pendidikan Eropa daripada kawan-kawannya. Pendidikan sekuler Eropa dipandang dapat mendatangkan kesejahteraan dan kemaslahatan bagi keluarga dan jemaahnya. Sebenarnya hal ini cukup aneh. Ia sendiri tidak menguasai bahasa Belanda, tetapi sangat memperhatikan masa depan anak-anaknya yang harus dibekali dengan pendidikan Belanda yang layak – suatu jaminan yang menurut pendapatnya efektif untuk menjaga prestise dan status keluarganya.

Untuk kepentingan keluarganya, Moesa mendirikan sekolah Eropa (bizondere Europeesche School) di Garut; caranya, pemuka-pemuka setempat membayar gaji guru tersebut. Sistem belajar dengan menggabungkan anak laki-laki dan anak perempuan (sesuatu yang pantang dalam sistem pesantren).

Karena Moesa, sekolah ini mendapat subsisdi dari pemerintah kolonial sebesar 100 gulden per bulan. Menurut Moesa, pendidikan sama artinya dengan penguasaan aksara dan bahasa – dan anak lelaki dan perempuan harus dipisahkan begitu mereka menginjak usia pubertas. Suatu kompromi cerdik yang mengerti esensi Islam secara dalam.

Kakara ngangkat birahi,

menggah istri pamegetna,

saena geus lepas bae,

ajeuna sedeng diadjar,

ngolah ilmoe oetama,

sanggeus iskolana tjoekoep,

ladjeng kana padamelan

Ketika mencapai pubertas,

Anak-anak perempuan dan lelaki

Lebih baik dipisahkan

Sekarang waktunya untuk belajar,

Untuk memperoleh ilmu pengetahuan hebat.

Ketika pendidikan di sekolah sudah cukup,

Kemudian mereka pergi bekerja

Saniskara damel istri,

oelah aja kapetolan,

ngeujeuk njoelam njoet njongket,

kitoe deui olah-olah,

panedja sim koering mah,

lamoen iskolana tjoekoep,

aksara djeung basa-basa

Semua jenis pekerjaan wanita

Tidak seharusnya diabaikan

Menyulam dan menenun

Dan juga memasak

Apa yang saya harapkan adalah

Ketika pendidikan di sekolah sudah cukup

[mereka sudah menguasai] aksara dan bahasa

(Danoeredja 1929 : 52)

Harapan Moesa ternyata terkabul: anak-anaknya memperoleh kedudukan tinggi dalam jajaran administrasi pemerintahan, dan anak-anak perempuannya menikah dengan menak yang dididik secara Eropa. Sebagai contoh, anak lelaki Moesa yang tertua, Soeria Nata Ningrat, menjadi Bupati Lebak di Kabupaten Banten. Anak lelakinya yang kedua, Kartawinata menjadi patih di Sumedang. Anak perempuannya yang pintar, Lasminingrat, menikah dengan Bupati Limbangan, dan anak perempuan yang lain menjabat berbagai kedudukan resmi pula. Saya menemukan keluarga-keluarga, trah-trah dan pemuka-pemuka bangsa ini memiliki strategi yang sama seperti Moesa di zamannya.
Berkompromi dengan ketidakadilan, kekuasaan penindas untuk kelangsungan hidup dan kemahsyuran keluarganya sehingga keturunannya menjadi orang yang dihargai di masa depan. Orang-orang seperti Moesa ini sangat mengerti bagaimana beradaptasi dengan kekuasaan. Memanfaatkan penjajah untuk kepentingan keluarganya dan sebisa mungkin dibagi dengan warga pribumi melalui sekolah dan buku-buku.

Moesa bisa dipandang sebagai pahlawan yang pragmatis. Dia tidak bersimbah darah, tidak mengikuti perjuangan fisik dan politik hancur lebur yang dilakukan tokoh-tokoh heroik yang kita kenal. Ia melakukan perjuangan diplomasi dan budaya. Suatu perjuangan yang akan meminimkan resiko jatuhnya korban tetapi efektif dalam jangka panjang. Bila kita menemukan nama-nama menak di kalangan Sunda, mungkin itu adalah hasil Moesa berkompromi dengan Kumpeni, sehingga kita menemukan tokoh-tokoh Sunda / keturunan Sunda jaman sekarang : Nia Dinata (keturunan Otto Iskandar Dinata), Agum Gumelar, Aman Wirakarta Kusumah (Ex. Rektor IPB / Pejabat UNESCO dari Indonesia), Jamie Aditya (artis pemeran Kabayan, keturunan budayawan Sunda ternama), dan mungkin masih banyak lagi nama yang tidak saya sebut yang mengharumkan nama Indonesia dengan karya-karya mereka.


disadur dari buku “Semangat Baru: Budaya Cetak, dan Kesusastraan Sunda Abad ke-19” Karya Mikihiro Moriyama

– gambar diambil dari http://masoye.multiply.com & http://www.goodreads.com/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: